Kesenian Caplokan sebelumnya sudah ada, tapi belum disebut tari Caplokan melainkan masih dalam bentuk tarian barongan biasa saja. Itu bisanya, tarian Barongan itu, dalam penyajiannnya menjadi bagian dari tari Kuda Kepang.
Pada awalnya penggambarannya itu tidak dicaplok mentah-mentah, tapi masih digambarkan dalam bentuk tarian. Kemudian pada perkembangan ada upaya untuk me-real-kan adegan tersebut agar ceritanya lebih seru lagi dan mengesankan, karena disini ada pesan-pesan yang tersirat dan juga pesan-pesan moral yang kuat.
Kesenian Caplokan yang dikembangkan sekarang dibentuk dalam tarian Barongan. Kalau di Bali punya tari Barong, di Wonosobo ini kita ada tarian Barongan. Disitu ada pendukung-pendukungnya, ada barongan kayu dan ada juga barongan yang bener-bener nyaplok orang nanti. Selain itu juga ada pasukan pengiringnya, yaitu pasukan kuda kepang butha itu. Bentuk sekarng yang sudah ada, ternyata lebih disukai anak-anak dan masarakat Wonosobo. Terutama adegan yang paling ditunggu saat Barongan nyaplok anak kecil, kemudian diontang-antingkan sebelumnya ditelan betulan. Kalau ada yang belum pernah liat, tentu itu akan mengejutkan sekali. Anak-anak kadang takut dengan barongan caplokan, mereka takut kalau malam-malam bakal ketemu dengan barongan caplokan itu.
Seni Caplokan itu menggambarkan tentang mitos sandingkala. Saat lepas maghrib, ada mitos jaman dulu, agar orang masuk rumah. Karena lepas maghrib itu ada kepercayaan saat penuh mara bahaya. Dari situ ada pesan moral, agar orang itu mau menurut pesan-pesan pada orang tuanya. Tokoh-tokohnya dalam seni caplokan, ada penari barongan, penari barongan kayu yang berujud siluman, kuda kepang butha. Kemudian ada anak kecil yang main-main, yang nanti akan dicaplok barongan itu.
Sebelum mementaskan kita memanjatkan do’a puja-puji kepada Tuhan. Sebelum mereka bernagkat pentas, kita siapkan ubo-rampe sesasi didepan rumah, ada jajan pasar, banyu kembang yang dicipratkan kepada pemain barongan dan anak yang nanti dicaplok itu. Setelah itu nanti dibacakan kidung-kidung Jawa.
Ada ritual khusus, setiap malam Jum’at kliwon, ngirab barongan keliling kampung. Tujuannya agar orang kampung, seluruh juga ikut mencintai kesenian ini. Dengan dikirabkannya ini, agar juga mamapu menumbuhkan kesadaran agar orang-orang disini meneruskan jejak-jejak yang dilakukan nenek-moyang kita.
Trance dalam kesenian caplokan itu tergantung dari selera yang punya hajat. Kalau yang punya hajat memang menghendaki akan trance, itu akan kita tampilkan. Kadang ada pemain yang makan kaca lampung, bahkan ada juga yang sampai makan bara api. Untuk bisa melakukan itu, mereka memang ada laku-laku khus, puasa, bertapa, ada ritual-ritual yang sampai sekarang masih dilakukan mereka. Sesaji : Kopi, air putih, kembang, jajan sepasar.
by: limine medax..







